Rabu, 17 Februari 2010

Di Sebuah Pagi

Pagi yang cerah, jam pertama sudah kosong. Padahal, kulihat teman-teman antusias menunggu Bu Condro. Berharap segera berkuliah seperti biasanya, merangkai kata, menebak angka, mengoperasikan rumus hingga menyimpulkan hasilnya. Sepertinya, kerinduan itu sudah memuncak.

Namun, apa daya mungkin beliau terlalu sibuk, sehingga jam pertama pun kosong. Sebelumnya, kami semua dibuat jengkel dengan kelakuan pak Kebon yang seenaknya molor. Sehingga, gerbang kampus belum terbuka meskipun jam sudah menunjukkan pukul 07.45.

Yah, itulah manusia lawas, terkadang hanya ingin enaknya saja, menceritakan pengabdiannya, padahal keprofesionalitasannya diragukan. Hal ini tercermin dari kejadian tadi pagi. Bagaimana kampus mau maju kalau tukang kebonnya males-malesan, apalagi penjaga perpusnya tidak konsisten. Merokok, pake sandal, tetapi bias-bisanya menyuruh orang lain untuk tertib. Sungguh tidak adil, memakan gaji buta. Tidak professional.

Huff, waktu terus bergulir, jam dinding tak ingin berhenti berdetak. Seolah menyombongkan diri bahwa dialah yang paling berjasa dalam menghakimi momentum. Bahwa semua orang membutuhkan jam dinding. Murid yang mengharapkan jam pulang sekolah, karyawan yang terus melihat jam ketika tangannya bergerak, dosen yang perfek, hingga mahasiswa yang tidak sabaran untuk pulang. Hehe…

Ya, waktu adalah sebuah kunci, begitulah yang kudapat dari orang-orang yang sudah terlebih dahulu menemukan ‘dirinya’. Seolah, mereka telah dapat menguasai waktu. Dunia dalam genggamannya, semua dapat diatur ketika apa yang ingin dilakukannya dalam satuan waktu, telah tertulis rapi sebagai sebuah rangkaian angka-angka penuh makna.

Dalam keterbatasannya, manusia terkadang berusaha untuk menutupinya. Entah dengan apa, tetapi berusaha menyombongkan diri untuk menjadi yang terbaik. Ya, alasannya apalagi kalau bukan karena bahwa yang terbaik itu hanyalah ada satu saja.

Waktu cepat berlalu, seolah perpustakaan hanyalah tempat untuk beristirahat. Padahal, pertempuran sesungguhnya sedang terjadi. Kelelahan yang menumpuk itu ditambah dengan kenyataan bahwa pengetahuan akan bertambah dengan membaca banyak wacana. Sesuai dengan prinsip, bahwa memanfaatkan waktu luang sebelum sempit adalah sebuah ajaran sesungguhnya. Bagian dari sebuah kesuksesan yang tak terbantahkan lagi.

Begitulah, dii ini yang terlalu bodoh, berusaha berbicara tentang kebaikan. Berusaha untuk mengungkapkan apa yang selama ini hanya bias dipendam. Entah kenapa, perasaan plong baru terasa ketika semua yang ada di kepala dapat dikeluarkan. Meskipun hanya satu kata.

Pak Suhardi, dosen yang mengisi pada siang itu. Waktu demi waktu begitu cepat mengalir. Namun, terasa lambat karena hamper kupastikan bahwa tak ada mahasiswa kelas s4b yang paham dengan apa yang beliau sampaikan. Dalam pertemuan pertamanya, dia lupa menyebut nama. Mungkin dia penggemar berat Shakespeare, “…apalah arti sebuah nama…” Menceritakan pengalamannya, bahwa hidup itu akan terasa indah ketika kita memegang teguh sebuah prinsip. Satu kata yang bias menggenggam dunia. ‘kejujuran’.

Isdiyono Rabu, 17 Februari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagi yang mengkopi, Tinggalkan Koment ya...makasih. Hehe